[Baru] Download Himpunan Fatwa Ulama Syi’ah Seputar Tahrif Al-Qur’an

, by Jaser Leonheart

Sebagaimana telah maklum, diantara kesesatan akidah Syi’ah adalah keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an telah mengalami tahrif/perubahan. Hal ini sudah sangat maklum sebagaimana banyak terpaparkan pembahasan ini oleh para asatidzah baik di dumay maupun secara langsung dengan menukil dari kitab-kitab Syi’ah sendiri.

Namun banyak Syi’ah mengingkari hal ini. Mereka mengatakan bahwa tuduhan keyakinan tahrif terhadap mereka hanyalah dusta belaka. Memang, wajar saja mereka mengingkarinya sebab hal ini akan membuat kesesatan mereka lebih nampak di tengah-tengah kita hingga tak ada lagi ruang untuk mereka di tanah air kita tercinta.

Maka buku ini hadir untuk menjawab pengingkaran mereka tersebut. Kami himpun di dalamnya kumpulan fatwa para ulama besar Syi’ah yang meyakini akidah tahrif melebihi apa yang pernah kami tulis di blog lama [jaser-leonheart.blogspot.com] dengan menukil langsung dari kitab-kitab Syi’ah sendiri beserta kami lengkapi dengan screenshotnya agar tidak ada orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa apa yang kami sampaikan adalah dusta.

Juga kami nukilkan sekilas biografi para ulama mereka tersebut di bagian footnote agar para pengingkar tersebut tahu diri, bahwa yang meyakini akidah tahrif adalah dedengkot besar mereka sendiri, bukan sekedar lulusan Qum lima tahun yang lalu.

Tak dinafikan, ada pula dari kalangan ulama mereka yang mengingkari akidah tahrif ini, namun apakah pengingkaran mereka tersebut atas dasar argumen yang ilmiyyah atau justru karena taqiyyah?

Semuanya kami ulas dalam buku ini yang kami mudahkan pembahasannya sesederhana mungkin dan tidak berbebelit, yang diharapkan ia bisa menjadi seperti maktabah Syamilah mini yang memudahkan para pembacanya mencari tahu dengan cepat siapa-siapa ulama Syi’ah yang meyakini tahrif, apa yang dikatakannya, di kitab apa dan halaman berapa, dan lain sebagainya sebagai bukti ketika mereka berdiskusi kepada Syi’ah, ataupun kepada orang-orang yang masih ragu akan kesesatan Syi’ah maupun yang belum mengetahuinya.

Berikut sampul dan daftar isinya :








Silakan bagi yang hendak mendownload dapat mengklik link berikut :


Buku ini pada asalnya tetap gratis, siapa pun dapat membacanya. Namun sebagaimana buku sebelumnya, barangkali ada dari saudara dan saudariku sekalian yang hendak memberikan infak seikhlasnya untuk buku ini agar meringankan beban kami sekeluarga bisa dikirim ke no rek kami berikut :

BCA : 0948 288 331
Atas Nama : Andi Rafael (ini nama kami sebagaimana kami cantumkan pada buku sebelumnya seputar takfir)

Setiap infak yang tersalurkan, harap dikonfirmasi di nomor whatsapp kami (089615304994) atau pada akun facebook kami berikut (https://www.facebook.com/anti.majoos).

Barangkali ada dari saudara-saudari sekalian yang bersedia membantu kami dengan memberikan sedikit dari rizqi yang telah Allah berikan kepada antum?  Hanya ini yang dapat kami lakukan untuk mengeyangkan perut kami sekeluarga, mungkin jika kami sendiri yang kelaparan kami masih bisa bersabar tetapi hati ini begitu lemah ketika kami melihat orang tua kami meneteskan air matanya karena menahan rasa lapar tersebut.

Kami hanya seorang anak jalanan, namun bukan berarti kami adalah pengangguran. Segala macam jalan usaha telah kami telusuri namun jalan tersebut kembali buntu. Setiap macam pekerjaan yang ditawarkan sangatlah tidak cukup untuk menenangkan orang tua kami karena hanya cukup untuk ongkos dan perut kami sendiri. Hingga pada akhirnya kami mengusahakan apa yang kami tulis ini.

Jika memang cara ini adalah cara yang hina, biarlah kami disebut orang hina demi rasa kenyang orang tua kami. Kami selalu siap dicap apa pun demi orang tua kami. Setidaknya kami tidak sekedar meminta, melainkan kami sudah mengusahakan semaksimal mungkin apa yang kami bisa untuk kaum Muslimin walau kami bukanlah seorang ustadz. Itu lebih baik ketimbang kami harus mencuri.

Musibah ini juga sudah berlangsung lama, dan ini juga termasuk faktor yang membuat kami fakum dari blog. Kami juga tidak sempat untuk mencetak buku ini, waktu sangat menuntut perut kami hingga kami tidak sempat untuk ini dan itu. Biarlah kami publikasikan secara online seperti ini, lebih cepat dan berapa pun hasilnya Insya Allah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.

Jadi kami mohon dengan rasa cinta karena Allah kepada saudara seiman, bantulah orang tua kami, bukan kami. Sesungguhnya setiap Muslim bersaudara, jika ada dari mereka satu saja yang sakit, yang lain pun turut merasakannya. Namun bagaimana pun, buku tersebut tetap gratis.

Semoga Allah memberkahi harta antum. Wa jazaakumullaahu al-firdausa al-a’laa.

Akhukum fillah, Jasir.

.
 
.
read more

Download Himpunan Fatwa Ulama Syi’ah (Edisi Takfir)

, by Jaser Leonheart

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, saudara-saudariku kaum Muslimin. Di saat sebagian kita masih dapat merasakan nikmatnya tidur dan beristirahat di dalam rumah yang nyaman, dan melahap penuh nikmat berbagai macam makanan, sesungguhnya ada pula dari saudara antum disini yang telah berusia 60 tahunan tengah dilanda musibah berupa rasa lapar. Tidak lain beliau adalah orang tua kami sendiri. Dan hal itulah yang membuat kami dalam beberapa bulan ini fakum dari menulis di blog ini, padahal masih banyak yang ingin kami tulis sebagai peringatan kepada para juhala pencela ulama.

Segala macam jalan usaha telah kami telusuri namun jalan tersebut kembali buntu hingga pada akhirnya kami ingin mengusahakan apa yang kami posting berikut ini, yaitu sebuah buku berformat PDF dengan judul “Himpunan Fatwa Ulama Syi’ah (Edisi Takfir)” dimana isinya seputar takfir/pengkafiran para ulama Syi’ah kepada para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum dan kaum Muslimin melebihi apa yang pernah kami posting di blog lama kami yang khusus membahas Syi’ah yaitu : jaser-leonheart.blogspot.com

Sengaja kami batasi dengan fatwa ulama Syi’ah, bukan dengan riwayat mereka dalam kitab-kitab mereka semisal Al-Kafiy karya Al-Kulainiy dll agar tidak ada celah bagi Syi’ah untuk mengatakan riwayat tersebut dha’if atau tidak diterima, meski sebenarnya tuduhan dha’if tersebut dapat kembali disanggah, hanya saja kami menghindari adanya “perdebatan” agar tidak berkepanjangan dengan membahas para perawinya, dsb. Dengan menukil langsung fatwa ulama mereka dalam kitab-kitab mereka maka sudah jelas pula kevalidannya. Karena itu tidak akan ditemui dalam buku ini riwayat-riwayat Syi’ah yang sudah masyhur seperti para shahabat telah murtad kecuali sekian orang, dan yang semisalnya. Hanya berupa himpunan fatwa-fatwa hitam dari lisan kotor para ulama Syi’ah melebihi apa yang pernah kami sampaikan sebelumnya.

Semua fatwa mereka yang kami nukil turut kami sertakan lampiran kitabnya (screenshot) dan alamat url situs resmi mereka agar tidak ada orang bodoh yang mengatakan bahwa apa yang kami nukil merupakan dusta. Dan turut pula kami hadirkan data ringkas mengenai ulama mereka tersebut sebagai bukti bahwa yang mengucapkan setiap fatwa hitam itu bukanlah sekedar lulusan Qum 5 tahun yang lalu.

Jadi kami berharap semoga buku ini bisa menjadi seperti Maktabah Syamilah yang mudah dicari pembahasannya sebagaimana temanya terfokus pada bab takfir sehingga menjadi pegangan bagi mereka yang ingin menunjukkan bahwa Syi’ah memang mengkafirkan kaum Muslimin, baik dalam rangka memberitahukan kepada yang belum mengetahui dan masih bersimpati kepada Syi’ah, maupun sebagai bantahan kepada Syi’ah yang mengingkari bahwa mereka tidak mengkafirkan Ahlus Sunnah.

Berikut beberapa lampirannya :



Bagi yang hendak mendownload, silahkan klik link berikut :

Dan buku ini gratis didownload, siapa pun dapat membacanya. Namun barangkali ada dari saudara dan saudariku sekalian yang hendak memberikan infak seikhlasnya untuk buku ini agar meringankan beban kami sekeluarga bisa dikirim ke no rek kami berikut :

BCA : 0948 288 331
Atas Nama : Andi Rafael (ini nama kami sebagaimana kami cantumkan biodata kami di buku tsb pada bagian akhir tentang penulis)

Setiap infak yang tersalurkan, harap dikonfirmasi di nomor whatsapp kami (089615304994) atau pada akun facebook kami berikut (https://www.facebook.com/anti.majoos).

Barangkali ada dari saudara-saudari sekalian yang bersedia membantu kami dengan memberikan sedikit dari rizqi yang telah Allah berikan kepada antum? Jika memang cara ini adalah cara yang hina, biarlah kami disebut orang hina demi rasa kenyang orang tua kami. Kami selalu siap dicap apa pun demi orang tua kami. Itu lebih baik ketimbang kami harus mencuri.

Jika hanya kami seorang diri yang dilanda rasa lapar ini, kami masih bisa bersabar. Beberapa ikhwan pun tahu seperti apa lingkungan kami dalam mencari sesuap nasi. Tetapi hati ini begitu lemah ketika kami melihat air mata jatuh dari mata orang tua kami ketika beliau-beliau menahan rasa lapar. Musibah ini juga sudah berlangsung lama, dan ini juga termasuk faktor yang membuat kami fakum dari blog, dan ini sudah sampai pada titik lemah kami.

Jadi kami mohon dengan rasa cinta karena Allah kepada saudara seiman, bantulah orang tua kami, bukan kami. Sesungguhnya setiap Muslim bersaudara, jika ada dari mereka satu saja yang sakit, yang lain pun turut merasakannya. Namun bagaimana pun, buku tersebut tetap gratis.

Semoga Allah memberkahi harta antum. Wa jazaakumullaahu al-firdausa al-a’laa.


Akhukum fillah, Jaser Leonheart.

.


read more

Al-Albaniy Menghina As-Suyuthi ?? Dusta Pendengki

, by Jaser Leonheart

Untuk yang kesekian kalinya pendengki yang menyebut dirinya Jundu Muhammad ini menunjukkan kedustaan atas nama Syaikh Al-Albaniy. Dalam situsnya ia membuat tulisan tendensius berjudul; Nashiruddin al-Albani Menghina Ulama’ Sekelas al-Imam as-Suyuthi Rahimahullaah sebagaimana berikut :




Sebagaimana terlihat, pendengki satu ini beranggapan bahwa Al-Albaniy menghina As-Suyuthi dikarenakan perkataan Al-Albaniy berikut :

وجعجع حوله السيوطي في " اللآلىء

Yang kemudian diterjemahkan olehnya; “Dan as-Suyuthi bersuara seperti unta yang sedang berkumpul di sekitarnya di dalam al-Laali”

Ini adalah terjemahan dusta. Alasan pendengki ini menterjemahkan demikian dikarenakan perkataan Al-Albaniy “ja’ja’a” yang ketika dirujuk olehnya ke dalam Kamus Al-Munawir didapati arti; “Suara unta yang berkumpul.”

Kami benar geleng-geleng kepala melihat tuduhannya ini. Sudah maklum bagi pembelajar bahasa ‘Arab pemula sekalipun bahwa satu kata bisa memiliki berbagai makna, sehingga untuk mendapati terjemahan yang tepat maka diperlukan kecermatan dalam melihat konteksnya [siyaqul-kalam]. Di samping itu, dalam Kamus Al-Munawir sendiri ja’ja’a – yuja’ji’u pun terdapat berbagai makna seperti berikut :



Sebagaimana para pembaca lihat, terdapat lebih dari satu makna. Dan demikian pula sebagaimana dalam Lisanul ‘Arab, Al-Mu’jam Al-Wasith, dsb. Lalu bagaimana bisa si pendengki ini langsung main hantam secara mutlak mengatakan; “Di dalam kamus al-Munawir, disebutkan bahwa arti Yuja’ji’u adalah suara unta yang sedang berkumpul” ? Maka apa lagi yang mendorongnya berbuat demikian selain kendengkian?

Makna yang tepat untuk “ja’ja’a” di atas adalah “katsiirul-kalaam” yaitu “banyak pembicaraan” sebagaimana hal ini pernah kami tanyakan kepada Syaikh DR. Syarif Hatim Al-‘Auniy dan Syaikh DR. ‘Abdul-Jawad Hamam hafizhahumallah. Makna ini sudah sangat masyhur di kalangan masyarakat ‘Arab sehingga terjemahan yang tepat untuk perkataan Al-Albaniy di atas adalah :

وجعجع حوله السيوطي في " اللآلىء " (2 / 421) دون طائل

“Dan As-Suyuthi banyak membicarakan seputar hadits ini dalam Al-La’ali (2/421) dengan tak berfaidah.” [Silsilah Adh-Dha’ifah, 4/189]

Ini sesuai konteksnya, karena ketika Al-Albaniy mengatakan demikian pada saat takhrij beliau untuk suatu hadits maudhu’/palsu berikut :

آجال البهائم كلها من القمل والبراغيث والجراد والخيل والبغال كلها والبقر وغير ذلك، آجالها في التسبيح، فإذا انقضى تسبيحها قبض الله أرواحها، وليس إلى ملك الموت من ذلك شيء

“Ajal setiap hewan dari kutu, burghuts, belalang, kuda, bighal, hewan-hewan melata semuanya, juga sapi dan yang lainnya, ajal mereka berada dalam tasbih mereka. Apabila tasbih mereka berhenti maka Allah ambil roh-roh mereka. Dan malaikat maut sedikit pun tidak mengurus masalah itu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-‘Uqailiy dalam Adh-Dhu’afa (4/321) dari jalur Al-Walid bin Musa Ad-Dimasyqi yang berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Amru Al-Auza’iy, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Al-Hasan, dari Anas secara marfu’. Dan As-Suyuthi juga menilainya maudhu’ dalam Al-La’ali dikarenakan perawinya yang bernama Al-Walid bin Musa Ad-Dimasyqi seperti berikut :

مَوْضُوع ، والمتهم بِهِ الْوَلِيد . قَالَ العُقَيْليّ : أحاديثه بواطيل لَا أَصْل لهَا ، وهذا الْحَدِيث لَا أَصْل لَهُ منْ حديث الْأَوْزَاعِيّ ، وَلَا غيره . قُلْتُ : الْوَلِيد قواه أَبُو حاتم ، فَقَالَ : صدوق الْحَدِيث لين ، حديثه صحيح ، وقَالَ فِي اللسان فِي هَذَا الْحَدِيث : أَنَّهُ مُنْكَر ، واللَّه أَعْلَم .

“Maudhu’ (palsu) dan rawi yang tertuduh (muttaham) adalah Al-Walid. Al-‘Uqailiy berkata; “hadits-haditsnya bathil, tidak ada asalnya.” Dan hadits ini termasuk dari hadits yang tidak ada asalnya dari hadits Al-Auza’iy (guru Al-Walid yang diriwayatkan olehnya), hadits ini tidak ada dari selain haditsnya. Aku (As-Suyuthi) berkata; “Al-Walid dikuatkan oleh Abu Hatim, ia berkata; “Shaduqul-hadits, layyin. Haditsnya shahih.” Dalam Al-Lisan disebutkan bahwa ia berkata berkenaan hadits ini; “ia munkar.” Wallaahu A’lam.” [Al-La’ali Al-Mashnu’ah, 2/421]

Sebagaimana terlihat, meski As-Suyuthi jelas-jelas sudah menilai hadits tersebut maudhu’ namun beliau tetap membawakan ta’dil Abu Hatim terhadapnya. Tentu saja hal ini tidak memfaidahkan apa pun karena tetap tidak mengubah kepalsuan hadits tersebut. Dari sini dapat difahami bahwa memang makna ja’ja’a yang dimaksud pada perkataan Al-Albaniy adalah banyak pembicaraan yang tiada faidah dengannya.

Kami sendiri tidak menyepakati apa yang dikatakan beliau [Al-Albaniy] karena mungkin saja maksud nukilan As-Suyuthi dari Abu Hatim bukan berarti tidak ada faidah, tetapi As-Suyuthi mengisyaratkan bahwa tidak semua hadits Al-Walid berstatus maudhu’. Maka ketika didapati haditsnya selain dari hadits di atas diperlukan perincian sehingga tidak langsung diklaim maudhu’. Meski demikian, kami hanya menjelaskan bahwa perkataan Al-Albaniy sama sekali tidak bermaksud “suara unta yang sedang berkumpul”. Hal itu sangat jauh sekali dari konteks pembicaraan. Tidak ada kaitannya sama sekali.

Kami berikan satu contoh untuk kasus yang sama dari Lisanuddin bin Al-Khathib rahimahullah dalam kitabnya ketika ia menerangkan biografi Muhammad bin Hasan Al-‘Imraniy Asy-Syarif, beliau berkata :



Perhatikan yang kami blok :
 
“Muhammad bin Hasan Al-‘Imraniy Asy-Syarif,… ia suka menazhamkan sya’ir, banyak menyebutkan masalah-masalah furu’ dan masalah-masalah pelik dalam ilmu fara’idh. Dan beliau banyak membicarakan (yuja’ji’u) ilmu-ilmu tsb dalam majelis-majelis durus…” [Al-Ihathah fi Akhbar Al-Gharnathah, 2/523]

Silahkan para pembaca bayangkan bagaimana jadinya apabila yuja’ji’u di atas diterjemahkan dengan suara unta yang berkumpul seperti pendengki tersebut ? Begitulah kualitas para pendengki ulama.

Tak hanya sekali ia ngawur dalam menterjemahkan, pada beberapa tulisan kami sebelumnya telah kami tunjukkan dari setiap kekeliruannya dalam menterjemah. Dan yang paling menggelikannya ketika ia menterjemahkan “shaduq lahu auham” dengan “jujur suka berhalusinasi” dimana ini sangat menunjukkan betapa asingnya ia dari musthalahul hadits, karena waham itu biasa terjadi pada perawi ketika ia meriwayatkan dari hafalannya, tidak ada cerita bahwa penyebabnya karena ia berhalusinasi.

Kembali ke pembahasan, dan perkataan Al-Albaniy “tidak ada faidah” pun bukan berarti beliau merendahkan As-Suyuthi. Para ulama sebelum Al-Albaniy pun juga tak jarang mengucapkan hal yang serupa. Contoh, pada suatu hadits yang disebutkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudhu’at (3/277) beliau menyatakan cacatnya dikarenakan beberapa rawi yang diantaranya adalah Muhammad bin Ishaq, kemudian Ibnu Hajar membantahnya dengan berkata :

وأما حمله علي محمد بن إسحاق فلا طائل فيه فإن الأئمة قبلوا حديثه وأكثر ما عيب فيه التدليس والرواية عن المجهولين وأما هو في نفسه فصدوق وهو حجة في المغازي عند الجمهور

“Adapun pencacatanya (Ibnul-Jauziy) terhadap Muhammad bin Ishaq, maka tidak ada faidah padanya. Karena para Imam menerima haditsnya. Kebanyakan yang dijadikan cacat padanya adalah karena faktor tadlis dan periwayatan dari rawi-rawi yang majhul. Adapun dia seorang yang shaduq dan hujjah dalam maghazi di sisi jumhur ulama.” [Al-Qaul Al-Musaddad hal. 44]

Adapun perkataan Al-Albaniy berikut :



Maka kami tidak mengingkari hal ini. Tetapi sikap Al-Albaniy tersebut bukan tanpa sebab, karena sudah maklum bagi mereka yang mengetahui bahwa Imam As-Suyuthi tidaklah memasukkan hadits yang terdapat rawi pendusta ke dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir, tetapi justru beliau banyak memasukkan hadits mereka di dalamnya.

Salah satunya adalah hadits yang sedang dibahas oleh Al-Albaniy di atas dimana pada sanadnya terdapat Mu’alla bin Hilal Al-Hadhramiy yang dikenal pendusta sebagaimana Ibnu Hajar dalam At-Taqrib [no. 6807] pun mengatakan bahwa para ulama telah sepakat menilai Mu’alla demikian. Bahkan As-Suyuthi sendiri juga menilainya “suka memalsukan hadits” sebagaimana ketika beliau memasukkan salah satu haditsnya ke dalam Al-La’ali (2/75).

Jelas hal ini sangatlah mengherankan yang karenanya Al-Albaniy bersikap demikian. Itulah kecemburan para ahli hadits karena cinta mereka terhadap hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sehingga ada kalanya mereka bersikap “keras”. Pun di tempat lain Al-Albaniy juga mengucapkan hal yang serupa kepada As-Suyuthi namun tetap diiringi doa untuk beliau seperti dalam Silsilah Adh-Dha’ifah (1/30) dan (1/272).

Tak hanya Al-Albaniy, para ulama sebelum Al-Albaniy pun juga bersikap demikian. Contoh, ketika Al-‘Uqailiy memasukkan guru Imam Al-Bukhariy yakni ‘Ali bin Al-Madiniy ke dalam kitabnya Adh-Dhu’afa (3/235) yang menghimpun rawi-rawi lemah, maka hal ini ditentang habis-habisan oleh Adz-Dzahabiy. Beliau berkata :

على بن عبد الله بن جعفر، أبو الحسن الحافظ. أحد الاعلام الاثبات، وحافظ العصر. ذكره العقيلي في كتاب الضعفاء فبئس ما صنع

“’Ali bin ‘Abdillah bin Ja’far Abul-Hasan Al-Hafizh. Salah satu dari kalangan ulama atsbat dan seorang hafizh pada zamannya. Disebutkan oleh Al-‘Uqailiy dalam kitabnya Adh-Dhu’afa, maka betapa buruknya apa yang diperbuatnya  itu.” [Mizan Al-I’tidal, 3/138]

Hingga Adz-Dzahabiy berkata :

وهذا أبو عبد الله البخاري - وناهيك به - قد شحن صحيحه بحديث على بن المديني، وقال: ما استصغرت نفسي بين يدى أحد إلا بين يدى علي بن المديني، ولو تركت حديث على، وصاحبه محمد، وشيخه عبد الرزاق، وعثمان بن أبي شيبة، وإبراهيم بن سعد، وعفان، وأبان العطار، وإسرائيل، وأزهر السمان، وبهز بن أسد، وثابت البناني، وجرير بن عبد الحميد، لغلقنا الباب، وانقطع الخطاب، ولماتت الآثار، واستولت الزنادقة، ولخرج الدجال. أفما لك عقل يا عقيلي، أتدرى فيمن تتكلم

“Inilah Abu ‘Abdillah Al-Bukhariy yang telah mengisi kitab shahihnya dengan hadits ‘Ali bin Al-Madiniy. Ia (Al-Bukhariy) pun berkata; “Aku tidaklah pernah merasa kecil di hadapan seorang pun kecuali di hadapan ‘Ali bin Al-Madiniy. Jika ditinggalkan hadits ‘Ali bin Al-Madiniy dan shahibul haditsnya yakni Muhammad Al-Bukhariy, juga gurunya yaitu ‘Abdurrazzaq, ‘Utsman bin Abi Syaibah, Ibrahim bin Sa’d, ‘Affan, Abban Al-‘Aththar, Israil, Azhar As-Saman, Ibnu Asad, Tsabit Al-Bananiy, Jarir bin ‘Abdil-Hamid, niscaya kita akan menutup pintu, terputuslah pembahasan, atsar-atsar akan mati, akan merajalela para zindiq dan dajjal akan keluar. Maka apakah engkau tidak memiliki otak wahai ‘Uqailiy? Apakah engkau tahu siapa yang engkau bicarakan?” [Mizan Al-I’tidal, 3/140]

Dengan menggunakan pola pikir rendahan si pendengki ini, maka apakah demikian akhlaq seorang muhaddits? Sebagaimana si pendengki ini merasa keheranan pada bagian akhir tulisannya ia berkata:

Berkaitan dengan tindakan caci-maki yang dilakukan al-Albani terhadap ulama’ lainnya, kami ada pertanyaan: Apakah ada di antara para Muhaddits yang mu’tabar dan diakui keilmuannya seperti al-Imaam al-Bukhari, imam Muslim, imam Ahmad, imam an-Nasa’i, imam at-Tirmidzi dan lain-lain yang melakukan tindakan caci-maki kepada ulama’ lain????

Pertanyaan ini seperti pertanyaan lainnya yang keluar dari lisan orang jahil namun ia mengira bahwa pertanyaannya itu adalah hujjah. Karena menurutnya yang disebut “celaan” itu tidak terjadi di kalangan para ulama terdahulu. Padahal hal itu bukanlah suatu hal yang asing lagi di kalangan penuntut ilmu, diantaranya seperti beberapa jarh terhadap Imam Abu Hanifah yang sampai-sampai Ibnu ‘Abdil-Barr membuat bab khusus mengenainya. Atau perkataan Imam Malik terhadap Ibnu Ishaq, begitu pula sebaliknya. Atau perselisihan yang terjadi antara Abu Nu’aim dengan Ibnu Mandah, dsb.

Masih banyak lainnya yang karenanya As-Subki berkata agar hal ini tidaklah dibicarakan [diam]. Yang karenanya para ulama pun sering mengingatkan hal tersebut bahwa “kalam aqran (perkataan ulama yang setingkat/selevel) terhadap yang lainnya tidaklah dianggap”.

Tetapi akan kami ulas sedikit sebagai catatan atas kejahilan pendengki ini. Kami bawakan contoh perselisihan yang terjadi diantara kalangan ulama Asya’irah sendiri yaitu antara As-Sakhawiy dan As-Suyuthi rahimahumallaahu Ta’aalaa. Perselisihan diantara keduanya sangat tajam sebagaimana dalam kitabnya Adh-Dhau’ Al-Lami’, As-Sakhawiy mencantumkan biografi As-Suyuthi dengan pandangan yang sangat minus terhadap As-Suyuthi. Cukup panjang, kami wakilkan dengan kesaksian dari Imam As-Syaukaniy berikut :

فإن السخاوي في "الضوء اللامع" وهو من أقرانه ترجمه ترجمة مظلمة غالبها ثلب فظيع ، وسب شنيع ، وانتقاص ، وغمط لمناقبه تصريحا ، وتلويحا

“Sesungguhnya As-Sakhawiy dalam kitabnya Adh-Dhau’ Al-Lami’ dimana ia merupakan aqrannya (As-Suyuthi) menuliskan biografinya dengan biografi yang hitam yang pada umumnya merupakan fitnah yang sangat buruk dan celaan yang sangat keji. Ia merendahkan dan menghinakannya baik secara isyarat maupun tashrih/jelas.” [Al-Badr Ath-Thali’, 1/329]

As-Suyuthi pun membalas, diantaranya sebagaimana Nazham Al-‘Iqyan beliau ketika mencantumkan biografi As-Sakhawiy seperti berikut :




مُحَمَّد بن عبد الرَّحْمَن بن مُحَمَّد بن أبي بكر بن عُثْمَان بن مُحَمَّد السخاوي شمس الدّين، الْمُحدث المؤرخ الْجَارِح. ولد سنة إِحْدَى وَثَلَاثِينَ وَثَمَانمِائَة. وَحضر إملاء الْحَافِظ بن حجر صَغِيرا فحبب إِلَيْهِ الحَدِيث، فلازم مجالسه، وَكتب كثيرا من مصنفاته بِخَطِّهِ. وَسمع الْكثير جدا على المسندين بِمصْر وَالشَّام والحجاز، وانتقى وَخرج لنَفسِهِ وَلغيره مَعَ كَثْرَة لحنه وعريه من كل علم بِحَيْثُ أَنه لَا يحسن من غير الْفَنّ الحديثي شَيْئا أصلا. ثمَّ أكب على التَّارِيخ فافنى فِيهِ عمره، وَأغْرقَ فِيهِ عمله وسلق فِيهِ أَعْرَاض النَّاس، وملأه بمساوئ الْخلق .

“Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Utsman bin Muhammad As-Sakhawiy Syamsuddin. Al-Muhaddits Al-Mu’arrikh Al-Jarih. Lahir 831 H. Kala kecil menghadiri majelis imla’ Al-Hafizh Ibnu Hajar hingga ia cinta terhadap ilmu hadits. Bermulazamah pada majelisnya, banyak menulis dari karya-karyanya dengan tulisannya dan sangat banyak mendengarkan hadits dari para musnid di Mesir, Syam, Hijaz. Dia menyeleksi dan mentakhrij (hadits-hadits dengan sanad dirinya yang didengar dari para musnid tsb) dan mentakhrij juga hadits selain dirinya bersamaan sangat banyak kekeliruannya dan kekosongannya pada setiap ilmu dimana ia tidak memiliki dasar sama sekali selain dalam ilmu hadits. Kemudian ia beralih ke bidang Tarikh hingga ia menghabiskan umurnya dalam bidang tersebut. Ia berlebih-lebihan di dalamnya, mencaci kehormatan manusia, dan ia memenuhinya dengan akhlaq yang buruk. 

 وَزعم أَنه قَامَ فِي ذَلِك بِوَاجِب، وَهُوَ الْجرْح وَالتَّعْدِيل، وَهَذَا جهل مُبين وضلال وافتراء على الله. بل قَامَ بِمحرم كَبِير، وباء وبوزر كثير، كَمَا أَشرت إِلَيْهِ فِي مُقَدّمَة هَذَا الْكتاب. وَإِنَّمَا نبهت على ذَلِك لِئَلَّا يغتر بِهِ، أَو يعْتَمد على مَا فِي تَارِيخه من الازراء بِالنَّاسِ خُصُوصا الْعلمَاء وَلَا يلْتَفت إِلَيْهِ. مَاتَ فِي شعْبَان سنة اثْنَتَيْنِ وَتِسْعمِائَة

Ia mengklaim bahwa ia melakukan itu atas dasar jarh wa ta’dil, maka ini adalah kebodohan yang nyata, kesesatan dan membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Karena sesungguhnya ia telah melakukan suatu keharaman yang besar dan kembali dengan membawa dosa yang banyak sebagaimana telah aku isyaratkan dalam muqaddimah kitab ini. Aku memperingatkan yang demikian agar tidak ada yang tertipu ataupun berpegang kepada apa yang ada dalam kitab Tarikhnya tersebut berupa penghinaan terhadap manusia khususnya para ulama, dan jangan pula ditoleh. Ia wafat pada bulan Sya’ban tahun 902 H.” [Nazham Al-‘Iqyan hal. 152-153 no. 156]

Juga sebagaimana dalam salah satu maqamat beliau dalam membantah tuduhan As-Sakhawiy yang berjudul Al-Kawiy dimana di dalamnya beliau menyebut As-Sakhawiy dengan sebutan bodoh [jahil], tolol [ahmaq] dan pendusta [kadzdzab]. Berikut screenshot dari syarh kitab yang menghimpun maqamat beliau pada bagian maqamah Al-Kawiy tersebut :





Jelas semua ini menjadi bumerang untuk pertanyaan miskin si pendengki tersebut. Ia pun seolah-olah tidak menyadari bahwa ada dari kalangan ulama kontemporer yang sering dijadikan rujukan olehnya dan kalangannya dimana mereka pun mencela dengan sangat kasar terhadap para Imam kaum Muslimin terdahulu. Diantaranya sudah kami paparkan dalam blog ini seperti celaan Hasan As-Saqqaf terhadap Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy dengan sebutan miskin juga mujassim, dan celaan Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumariy terhadap Al-Imam Ibnul-Jauziy dengan sebutan jahil/bodoh.

Apakah Al-Albaniy seperti itu? Apakah perkataan-perkataan Al-Albaniy di atas tidak lebih lembut dari semua itu? Jadi siapa sebenarnya yang kurang ajar?

Inilah akibat orang yang miskin membaca tetapi sudah terburu-buru teriak sana sini berlagak pendekar. Sok menyebut dirinya dengan sebutan “jundumuhammad” yang justru malah menunjukkan kejahilannya sendiri. Lebih buruk keadaannya daripada orang Syiah yang kami jumpai. Dan betapa banyak orang-orang lugu yang mengcopas tulisan murahannya itu. Sungguh menggelikan. 
 

-          Jaser Leonheart -

read more

Kontradiksi Al-Albaniy Menilai Hadits “Afsyus-Salam” ? Kejahilan Pendengki

, by Jaser Leonheart

Sungguh menyedihkan ketika seseorang yang yang tidak mengerti apa-apa namun berlagak mendiskreditkan ulama dengan “analisis” murahan yang ditulisnya. Ia benar-benar tidak sadar bahwa ia tengah menunjukkan kejahilannya.

Diantara mereka adalah seorang pendengki yang menyebut dirinya Jundu Muhammad dimana pada pemaparan kami sebelumnya telah terbukti bahwa tuduhannya terhadap Al-Albaniy bahwa beliau mengalami kontradiksi dalam menilai rawi bernama Sa’id bin Zaid adalah tidak benar. Pembahasan kali ini akan mengulas tuduhan lain olehnya bahwa Al-Albaniy mendhaifkan hadits di suatu tempat namun di lain tempat beliau menshahihkannya sebagaimana dalam situsnya ia berkata seperti berikut :



Terlebih dahulu kami tekankan bahwa hadits “Afsyus-Salam (Sebarkanlah Salam)” diriwayatkan oleh banyak shahabat seperti Abu Hurairah, Az-Zubair, ‘Abdullah bin Salam, dan yang lainnya. Atas dasar ini, Al-Albaniy menilainya shahih mutawatir [lihat Al-Irwa, 3/237]. Dan hadits di atas merupakan salah satu matan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim dari jalur Qatadah dari Abu Maimunah.

Permasalahan terjadi pada penilaian Al-Albaniy terhadap Abu Maimunah. Satu sisi dinilai “tsiqah” oleh beliau, di sisi lain dinilai “majhul” yang karenanya terjadi perbedaan beliau dalam menilai sanad jalur Abu Maimunah ini, dimana di satu sisi dikatakan “shahih” dan di sisi lain dikatakan “dha’if”. Ini permasalahannya, yaitu pada sanad jalur Abu Maimunah tersebut, bukan pada hadits tersebut secara keseluruhan. Sebagaimana sangat jelas pada screenshot di atas, Al-Albaniy dalam Irwa Al-Ghalil mengatakan “isnaduhu shahih” yaitu “sanadnya shahih”, dan dalam Silsilah Adh-Dha’ifah beliau mengatakan “wa hadza isnad dha’if” yaitu “ini sanad yang dha’if”.

Dan sudah maklum bagi pembelajar ilmu hadits pemula sekalipun bahwa suatu sanad yang dha’if bukan berarti hadits tersebut sudah pasti dha’if, karena bisa jadi ia memiliki jalur lain dengan sanad yang shahih, sebagaimana Ibnu Ash-Shalah berkata :

إذا رأيت حديثا بإسناد ضعيف، فلك أن تقول هذا ضعيف وتعني أنه بذلك الإسناد ضعيف‏.‏ وليس لك أن تقول هذا ضعيف، وتعني به ضعف متن الحديث، بناء على مجرد ضعف ذلك الإسناد، فقد يكون مرويا بإسناد آخر صحيح يثبت بمثله الحديث

“Jika engkau melihat suatu hadits dengan sanad yang dha’if, maka mestinya engkau mengatakan; “ini dha’if” dengan maksud sanadnya dha’if. Dan bukan kau katakan “ini dha’if” namun engkau bermaksud bahwa matannya dha’if hanya dikarenakan sanadnya yang dha’if. Karena bisa jadi ia diriwayatkan dengan sanad lain yang shahih yang dengannya menjadi shahih hadits semisalnya.” [Muqaddimah Ibnu Ash-Shalah, 1/102-103]

Sehingga sekalipun beliau menilai dha’if jalur sanad Abu Maimunah ini bukan berarti beliau menilai dha’if hadits tersebut [dengan lafazh yang mahfuzh] karena terdapat sanad yang shahih dari jalur yang lain. Sebagaimana Al-Albaniy sendiri dalam Adh-Dha’ifah setelah menyatakan sanadnya dha’if, beliau berkata :

لكن قوله: " أفش السلام ... " إلخ قد صح من حديث عبد الله بن سلام مرفوعا وهو مخرج في " الصحيحة " 569

“Tetapi sabda beliau -shallallaahu ‘alaihi wasallam- (yang dimulai dari redaksi) “Sebarkanlah salam...(hingga akhir)” telah shahih dari hadits ‘Abdullah bin Salam secara marfu’, yaitu yang ditakhrij dalam Ash-Shahihah no. 569.” [Silsilah Adh-Dha’ifah, 3/492]

Maka tidak tepat pendengki tersebut membuat judul “Nashiruddin al-Albani Mendhoifkan Suatu Hadits di Satu Tempat, Namun ditempat Lain Dinyatakan Shahih”. Inilah salah satu bentuk kejahilannya. Padahal perkataan Al-Albaniy ini sangat nampak pada screenshot yang diupload olehnya di atas.

Jika pun yang dimaksud olehnya dari judul tersebut hanyalah hadits Abu Hurairah, maka juga tidak tepat. Karena selain dari jalur Abu Maimunah yang dinilai dha’if sanadnya oleh Al-Albaniy, hadits Abu Hurairah juga diriwayatkan dengan matan semakna dari jalur Abu Shalih oleh Imam Muslim dimana Abu Shalih juga memiliki penguat dari ‘Abdurrahman bin Ya’qub Al-Juhaniy sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Al-Albaniy pun menyatakan “sanadnya shahih”.

Berikut pernyataan beliau :



“Hadits ‘Sebarkanlah Salam’. Shahih Mutawatir. Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah, Az-Zubair, putra Az-Zubair yaitu ‘Abdullah, ‘Abdullah bin Salam, ‘Abdullah bin ‘Amru, Al-Barra bin ‘Azib, ‘Abdullah bin ‘Umar, Jabir bin ‘Abdillah, Abu Darda’, ‘Abdullah bin ‘Abbas, dan ‘Abdullah bin Mas’ud.”
Adapun hadits Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Abu Shalih darinya (Abu Hurairah) yang berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukan kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian”.
Diriwayatkan oleh Muslim (1/53), Abu ‘Uwanah (1/30), Abu Daud (5193), Ibnu Majah (3692), Ahmad (2/391, 442, 447, 495, 512). At-Tirmidziy berkata; “hadits hasan shahih”. Abu Shalih diikuti/dikuatkan oleh ‘Abdurrahman bin Ya’qub Al-Juhaniy dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 980 dan sanadnya shahih.” [Irwa Al-Ghalil, 3/237].

Setelah itu Al-Albaniy baru menyebutkan jalur sanad Abu Maimunah. Lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa “Al-Albani mendhaifkan hadits di suatu tempat namun di tempat lain dinyatakan shahih” ? Padahal yang dianggap bahwa Al-Albaniy “mendhaifkan” tersebut juga “dishahihkan” sendiri oleh beliau dari jalur yang lain. Bagi mereka yang akrab dengan ilmu hadits tentu tidak akan seteledor ini.

Maka seharusnya kalau dia mau membuat judul adalah berkenaan kontradiksi Al-Albaniy terhadap Abu Maimunah karena itu permasalahannya. Dan hal itu telah kami bahas pada tulisan berikut beserta tuduhan lainnya di atas bahwa Al-Albaniy mencela As-Suyuthi dan Al-Munawiy. Kesimpulannya perbedaan penilaian beliau terhadap Abu Maimunah berdasarkan qarinah yang kuat merupakan taraju’ dimana penilaian beliau yang terakhir untuk Abu Maimunah adalah majhul yang karenanya beliau menilai dha’if sanadnya dalam Silsilah Adh-Dha’ifah.

Dan tak hanya Al-Albaniy, para ulama sebelum Al-Albaniy pun juga mengalami hal serupa. Diantara mereka adalah Ibnu Hajar ketika beliau menilai sanad dari riwayat Abu Daud berikut :

حدثنا محمد بن العلاء أخبرنا معاوية بن هشام عن يونس بن الحارث عن إبراهيم بن أبي ميمونة عن أبي صالح عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال نزلت هذه الآية في أهل قباء فيه رجال يحبون أن يتطهروا قال كانوا يستنجون بالماء فنزلت فيهم هذه الآية

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-‘Alla, telah memberitakan kepada kami Mu’awiyyah bin Hisyam, dari Yunus bin Al-Harits, dari Ibrahim bin Abi Maimunah, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Telah turun Ayat ini “fiihi rijaalun yuhibbuuna an yatathahharuu” (Terdapat di dalamnya orang-orang yang suka membersihkan diri) berkenaan penduduk Quba. Mereka beristinja’ dengan air, maka ayat ini turun berkenaan mereka.” [Sunan Abi Daud no. 44]

Catatan, Abu Daud hanya meriwayatkannya dengan jalur sanad di atas. Dan dalam Fathul-Bariy, Ibnu Hajar menilai shahih sanadnya dengan berkata :



“Pada riwayat Abu Daud dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Telah turun Ayat “fiihi rijaalun yuhibbuuna an yatathahharuu” (Terdapat di dalamnya orang-orang yang suka membersihkan diri) berkenaan penduduk Quba.” [Fathul-Bariy, 7/289]

Namun dalam At-Talkhish setelah beliau membawakan hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dimana matannya tidak seperti pada setiap jalur lainnya, hingga beberapa baris setelahnya beliau berkata :



وفي الباب عن أبي هريرة رواه أبو داود والترمذي وابن ماجة بسند ضعيف وليس فيه ذكر اتباع الأحجار الماء بل لفظه وكانوا يستنجون بالماء

“Dan pada bab ini terdapat dari hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Majah dengan sanad yang dha’if. Dan tidak ada padanya penyebutan beristinja’ dengan batu setelah air (seperti pada riwayat Al-Bazzar). Tetapi lafazhnya hanyalah; “Mereka beristinja’ dengan air.” [At-Talkhish Al-Habir, 1/199]

Satu sisi dikatakan “sanadnya shahih” dan di sisi lain dikatakan “sanadnya dha’if”. Sama seperti Al-Albaniy. Mungkin saja akan ada yang beralasan konyol bahwa perkataan Ibnu Hajar “dengan sanad yang dha’if” di atas hanya tertuju kepada Ibnu Majah, bukan Abu Daud dan At-Tirmidziy. Karena perkataan tersebut diucapkan setelah penyebutan Ibnu Majah. Maka di samping ini adalah alasan mengada-ngada yang tidak mengerti uslub para ulama hadits, alasan ini tertolak dengan dua sebab :

[I]. Baik sanad Abu Daud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Majah adalah sama yaitu berporos pada Mu’awiyyah bin Hisyam, dari Yunus bin Al-Harits, dari Ibrahim bin Abi Maimunah, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Sanad riwayat Abu Daud telah kita lihat sebelumnya. Berikut sanad riwayat At-Tirmidziy dalam Sunannya no. 3357 :




Dan berikut sanad riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya no. 357 :



[II]. Dan pada kesemua sanad tersebut sebagaimana terlihat terdapat Yunus bin Al-Harits dan Ibrahim bin Abi Maimunah, dua rawi yang dinilai dha’if dan majhul oleh beliau dalam At-Taqrib.

يونس بن الحارث الثقفي الطائفي نزيل الكوفة ضعيف من السادسه د ت ق

“Yunus bin Al-Harits Ats-Tsaqafiy Ath-Tha’ifiy. Singgah di Kufah. Dha’if. Dari thabaqah ke-6. Dipakai oleh Abu Daud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Majah.” [Taqribut-Tahdzib no. 7909]

إبراهيم بن أبي ميمونة حجازي مجهول الحال من الثامنة د ت ق

“Ibrahim bin Abi Maimunah, penduduk Hijaz. Majhuul haal. Dari thabaqah ke-8. Dipakai oleh Abu Daud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Majah.” [Taqribut-Tahdzib no. 266]

Maka bagaimana bisa diasumsikan bahwa “sanad yang dha’if” yang dimaksud Ibnu Hajar hanya tertuju kepada sanad riwayat Ibnu Majah? Sedangkan sanad At-Tirmidziy dan Abu Daud keadaannya pun juga sama seperti sanad Ibnu Majah, tidak lepas dari cacat. Masa iya Ibnu Hajar “curang” begitu? Ini bukti bahwa yang dimaksud Ibnu Hajar dengan “sanad yang dha’if” bermaksud kepada mereka semua

Dan ini menunjukkan benarnya penilaian beliau dalam At-Talkhish dengan menilai ketiga sanad tersebut dha’if, karena sejalan dengan penilaian beliau terhadap rawi-rawinya dalam At-Taqrib. Permasalahannya adalah penilaian beliau dalam Fathul-Bariy yang menilai sanadnya shahih. Bagaimana bisa beliau menilai sanadnya shahih sementara rawi-rawinya bermasalah di sisi beliau sendiri.

Jadi apakah berarti Ibnu Hajar kontradiksi karena satu sisi dikatakan “sanadnya shahih” dan di sisi lainnya dikatakan “sanadnya dha’if” ? Bisa saja dikatakan demikian namun tidak menutup kemungkinan pula beliau rujuk dari penilaian shahih pada Fathul-Bariy kepada penilaian yang baru sebagaimana dalam At-Talkhish, karena Fathul-Bariy merupakan kitab beliau yang lebih awal sebelum At-Talkhish. Begitu pula Al-Albaniy.

Lalu si pendengki satu ini terlihat begitu heran sebagaimana judul yang ditulisnya. Seakan-akan tidak pernah ada ulama sebelum Al-Albaniy yang menyatakan di satu sisi hadits dha’if dan di sisi lainnya dinyatakan hadits shahih.
Banyak contoh untuk hal ini. Diantara mereka adalah Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah yang banyak sekali memasukkan hadits yang sudah dinyatakan beliau maudhu’/palsu dalam “Al-La’ali Al-Mashnu’ah fi Ahadits Al-Maudhu’ah” ke dalam “Al-Jami’ Ash-Shaghir”. Padahal beliau sendiri dalam muqaddimahnya [Al-Jami’ Ash-Shaghir] menyatakan bahwa beliau tidaklah memasukkan hadits yang diriwayatkan oleh para pemalsu hadits dan para pendusta.

Untuk mempersingkat, kami hadirkan langsung kesaksian dari ulama yang sering dijadikan rujukan dalam hadits oleh kalangan si pendengki. Yaitu Asy-Syaikh Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumariy yang membuat kitab khusus berkenaan hal ini dengan nama “Al-Mughir ‘alaa Al-Ahadits Al-Maudhu’ah fi Al-Jami’ Ash-Shaghir” yang dalam muqaddimahnya beliau berkata :




“Amma ba’d. Sungguh As-Suyuthi telah menyebutkan dalam khuthbah kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir bahwa beliau menjaganya dari periwayatan pemalsu hadits dan pendusta yang menyendiri dalam meriwayatkannya. Maknanya berarti beliau tidaklah menyebutkan satu pun hadits maudhu’/palsu di dalamnya, tetapi semua yang ada di dalamnya adalah hadits-hadits yang tsabit. Namun kenyataannya tidak demikian, karena beliau sendiri telah menyebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan secara menyendiri oleh para pendusta, dan hadits-hadits yang nampak kepalsuannya meskipun para pendusta tersebut tidak menyendiri dalam meriwayatkannya, karena ia berasal dari periwayatan para pendusta semisal mereka… Bahkan di dalam kitab ini beliau juga menyebutkan hadits-hadits yang beliau sendiri telah menegaskan kepalsuannya yang hal itu bisa dari kesepakatan beliau terhadap penghukuman palsu oleh Ibnul-Jauziy sebagaimana dalam Al-La’ali Al-Mashnu’ah, atau bisa juga dari istidrak beliau terhadap Ibnul-Jauziy sebagaimana dalam Dzail Al-La’ali. Bersamaan itu, beliau turut menyebutkannya dalam kitab ini yang termasuk dari kitab-kitab terakhir yang ditulis beliau. Maka bisa jadi beliau lupa, kuat dugaan demikian. Dan bisa jadi juga karena beliau berubah pendapat. Diantarannya adalah hadits-hadits yang beliau tidak menduganya bahwa itu palsu, karena beliau seorang yang sangat tasahul dalam hal itu. Hampir-hampir beliau tidak menghukum suatu hadits dengan maudhu’/palsu kecuali jika suatu hal yang urgen mendorong beliau untuk melakukannya dalam hal penghujjahan kepada lawannya dan membatalkan dalilnya (lawan tersebut).” [Muqaddimah Al-Mughir, hal. 5-6]

Perhatikanlah bagaimana Al-Ghumariy mencoba bersikap inshaf terhadap As-Suyuthi dengan mengatakan; “bisa jadi beliau lupa atau berubah pendapat” padahal sudah jelas-jelas apa yang dilakukan As-Suyuthi merupakan suatu hal yang bertolak-belakang dengan ucapan beliau sendiri. Lalu mengapa orang-orang yang mengaku-ngaku pengagum beliau [Al-Ghumariy] tidak bisa bersikap sama kepada Al-Albaniy?

Tentu saja bukan berarti kami butuh sikap adil para pendengki terhadap Al-Albaniy. Sama sekali tidak. Karena tidak ada harganya setiap pujian apa lagi celaan dari orang-orang bodoh seperti ini. Mereka teruskan celaan mereka pun tak mempengaruhi kedudukan Al-Albaniy. Allah adalah Sebaik-Baik Saksi. Kami hanya menegakkan hujjah sebagai garis pemisah [bagi yang belum mengetahui] antara Al-Albaniy dengan kejahilan para pendengki.

Hadaahumullaahu wa iyyaanaa.


– Jaser Leonheart –

read more

Kontradiksi Al-Albaniy Terhadap Abu Maimunah atau Taraju’ ?

, by Jaser Leonheart

Tulisan berikut merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya berkenaan tuduhan seorang pendengki [Jundu Muhammad] bahwa Syaikh Al-Albaniy kontradiksi dalam menilai hadits “Afsyus Salam”. Telah kami buktikan disana bahwa tuduhannya tersebut keliru. Dan yang paling menggelikannya, daya fahamnya tidak mampu menangkap esensi dari masalah yang sebenarnya karena jauhnya ia dari ilmu hadits. Silahkan para pembaca melihatnya terlebih dahulu sebelum berlanjut kepada tulisan berikut.

Karena permasalahan yang sebenarnya adalah dimana pada suatu tempat Syaikh Al-Albaniy berkata mengenai seorang rawi yang bernama Abu Maimunah bahwasanya ia tsiqah. Namun di tempat lain beliau berkata bahwa ia majhul.

Abu Maimunah yang dimaksud adalah Abu Maimunah Al-Farisiy Al-Abbar, seorang yang tsiqah di sisi Ibnu Hajar sebagaimana dalam At-Taqrib [no. 8408]. Namun terdapat juga ulama lainnya yang membedakan antara Abu Maimunah Al-Farisiy dan Abu Maimunah Al-Abbar seperti Al-Bukhariy, Abu Hatim, Ad-Daraquthniy dan yang lainnya. [lihat; At-Tahdzib no. 12167].

Dalam Irwa Al-Ghalil Al-Albaniy menilai Abu Maimunah “tsiqah” mengikuti penilaian Ibnu Hajar. Sedangkan dalam Silsilah Adh-Dha’ifah beliau menilainya “majhul” mengikuti penilaian Ad-Daraquthniy. Apakah ini kontradiksi ?

Berdasarkan beberapa qarinah yang ada, sangat lemah untuk dikatakan bahwa ini merupakan kontradiksi. Sebaliknya sangat kuat bahwa ini merupakan taraju’ Al-Albaniy [meski beliau tidak tashrih/jelas menyatakannya] yaitu pengkoreksian atau menarik kembali penghukuman yang lama ketika mengikuti Ibnu Hajar yang menyamakan antara Al-Farisiy dan Al-Abbar, yang kemudian berpegang kepada penghukuman yang baru dengan menilai tsiqah untuk Al-Farisiy dan dengan penilaian majhul untuk selain Al-Farisiy sebagaimana penilaian Ad-Daraquthniy.

Sebagai contoh, sebut saja ada wanita bernama Fathimah dimana sesekali ia berkata; “Jasir jelek” dan sesekali pula ia berkata; “Jasir ganteng” maka ini bukanlah tanaqudh/kontradiksi. Karena setelah dirinci keadaan dari dua perkataannya tersebut ternyata perkataan “Jasir jelek” diucapkan olehnya 10 tahun yang lalu waktu Jasir masih unyu-unyu. Dan setelah Jasir semakin dewasa makin jelas ketampanannya dari alisnya, senyumannya dll, Fathimah pun berkata; “Jasir ganteng (banget)”. Jelas ini bukan kontradiksi walau Fathimah tidak tashrih menyatakan penyebabnya. Begitu pula bisa saja sebaliknya, dulu ia mengatakan “Jasir ganteng” namun ketika Jasir tidak mandi selama seminggu, ia pun kemudian berkata; “Jasir jelek (ga pake banget)”. Semua ini tergantung mana yang awal dan mana yang akhir.

Begitu pula Al-Albaniy, bagi mereka yang akrab dengan kitab-kitab beliau tentu tahu bahwa Irwa Al-Ghalil merupakan kitab beliau yang lebih dulu sebelum Silsilah Adh-Dha’ifah. Hal itu bisa dilihat diantaranya pada tanggal yang ditulis beliau dalam muqaddimah setiap kitab tersebut.

Berikut dari muqaddimah Silsilah Adh-Dha’ifah dimana pada bagian akhir muqaddimahnya beliau menulis; “Oman, 15 Sya’ban 1410 H. Ditulis oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy” [Muqaddimah Silsilah Adh-Dha’ifah, 1/37]



Sedangkan untuk Al-Irwa sebagaimana dalam bagian akhir muqaddimahnya beliau menulis; “Beirut, awal Rajab 1399 H. Ditulis oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy.” [Muqaddimah Irwa Al-Ghalil, 1/12]




Sebagaimana terlihat jarak antara keduanya 11 tahun, sangat wajar selama itu ada masa-masa pengkoreksian Al-Albaniy yang akhirnya beliau rujuk dari pendapatnya yang lama. Inilah salah satu cara yang digunakan para ulama untuk mengetahui mana yang awal dan mana yang akhir apabila terjadi lebih dari satu qaul pada seorang ‘alim terhadap rawi maupun hadits. Diantaranya sebagaimana pada tulisan sebelumnya kami telah memberikan contoh dari Syaikh Ahmad Al-Ghumariy dimana beliau menyikapi demikian pula terhadap Imam As-Suyuthi.

Terlebih lagi muqaddimah Al-Albaniy tersebut adalah muqaddimah cetakan yang baru [screenshot yang digunakan oleh pendengki tersebut termasuk darinya] yang di dalamnya Al-Albaniy sendiri sudah lebih dulu memberitahukan bahwa adanya tambahan faidah yang tidak ada pada cetakan sebelumnya seperti taraju’ beliau terhadap beberapa hadits dan perawi dalam kitab tersebut maupun kitab-kitab beliau lainnya.

Beliau berkata :

وإن من هذا الفضل الِإلهيِّ أنه تعالى وفَّقني لِإخراج هذه الطبعة متميزة عن سابقاتها بزيادة فوائد عديدة؛ حديثية وفقهية، وبإضافة مصادر جديدة لبعض الأحاديث والتراجم

“Termasuk dari Karunia Allah bahwasanya Dia telah memberikan taufiq kepadaku untuk menerbitkan cetakan ini yang berbeda dari yang sebelumnya, dengan penambahan sejumlah faidah haditsiyyah, fiqhiyyah dan beberapa referensi baru untuk sebagian hadits dan tarajum (biografi para perawi).[Muqaddimah Silsilah Adh-Dha’ifah, 1/3]

ولما كان من طبيعة البشر التي خلقهم الله عليها العجز العلمي المشار إليه في قوله تعالى: "وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِن عِلْمِهِ إِلّاَ بِما شَاءَ"؛ كانَ بدهيّا جدّاً أن لا يجمُدَ الباحث عند رأي أو اجتهاد له قديم، إذا ما بدا له أن الصواب في غيره من جديد، ولذلك نجد في كتب العلماء أقوالًا متعارضة عن الِإمام الواحد؛ في الحديث وتراجم رواته، وفي الفقه، وبخاصة عن الِإمام أحمد، وقد تميز في ذلك الِإمام الشافعي بما اشتهر عنه أن له مذهبين: قديم وحديث وعليه فلا يستغربنَّ القارئ الكريم تراجعي عن بعض الآراء والأحكام التي يُرى بعضها في هذا المجلد تحت الحديث (65) عند الكلام على حديث: " لا تذبحوا إلا مسنة "، وغير ذلك من الأمثلة؛ فإن لنا في ذلك بالسلف أسوة حسنة

“Termasuk dari tabiat manusia yang diciptakan oleh Allah adalah sifat lemah sebagaimana diisyaratkan dalam Firman-Nya; “Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki oleh-Nya.” Yang demikian sangat jelas agar seorang bahits tidak jumud/diam pada pendapat atau ijtihadnya yang lama ketika nampak yang baru baginya bahwa yang benar ada pada selainnya. Oleh karena itu kita dapati dalam kitab-kitab para ulama beberapa qaul dari satu orang Imam yang saling ta’arudh/bertentangan dalam penghukuman terhadap hadits dan para perawinya. Juga dalam fiqh, khususnya Imam Ahmad. Dan Imam Asy-Syafi’iy telah melakukan pemisahan berkenaan hal itu sebagaimana masyhur beliau memiliki qaul yang lalu (qadim) dan yang baru (jadid). Maka atas dasar hal itu, para pembaca yang mulia janganlah heran berkenaan taraju’-ku dari beberapa pendapat dan hukum yang sebagian darinya terlihat dalam jilid ini (contohnya) ketika pembahasan mengenai hadits no. 65; “Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah (yang berumur satu tahun)” dan contoh-contoh lainnya. Karena kami memiliki salaf dalam hal itu sebagai tauladan yang baik.” [Ibid, 1/3-4]

Selanjutnya beliau memberikan beberapa contoh taraju’ beliau seperti pada perawi dikarenakan pada awalnya ada penilaian ulama terhadap rawi tersebut yang belum beliau dapati, kemudian diberitahukan oleh rekan beliau sehingga beliau meralatnya. Lalu beliau berkata :

فرحم الله عبداً دلَّني على خطئي، وأهدى إليَّ عيوبي. فإن من السهل على- بإذنه تعالى وتوفيقه- أن أتراجع عن خطأ تبيَّن لي وجهه، وكتبي التي تطبع لأول مرة، وما يُجَدَّد طبعُه منها أكبرُ شاهد على ذلك

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang telah menunjukkan kepadaku kekeliruan dan kekuranganku. Tidaklah berat bagiku untuk rujuk dari kekeliruan yang memang telah nampak jelas bagiku. Dan kitab-kitabku yang pertama kali dicetak, dan apa yang diperbarui darinya pada cetakan terbaru merupakan sebesar-besar bukti atas hal itu (taraju’). [Ibid, 1/6]

Semua ini merupakan qarinah bahwa tidak menutup kemungkinan pada cetakan lama Silsilah Adh-Dha’ifah penilaian Al-Albaniy terhadap Abu Maimunah sejalan dengan penilaian beliau dalam Al-Irwa yang kemudian pada cetakan baru beliau menilainya seperti di atas. Diperkuat dengan qarinah lainnya bahwa meski beliau tidak sharih menyatakannya pada saat berbicara mengenai Abu Maimunah [karena memang tidak selamanya para ulama tashrih/jelas menyatakan taraju’nya dengan lisan mereka] Al-Albaniy telah dengan tegas membedakannya, beliau berkata :

ثم رأيت الحديث في " المستدرك " (4/129) من الوجه المذكور وقال: " صحيح الإسناد "! ووافقه الذهبي! مع أن هذا أورد أبا ميمونة في " الميزان " ونقل عن الدارقطني ما ذكرته عنه آنفا من التجهيل! وأقره! وأما الحاكم فلعله ظن أن أبا ميمونة هذا هو الفارسي وليس أبا ميمونة الأبار، أوأنه ظن أنهما واحد، والراجح التفريق، وإليه ذهب الشيخان وأبو حاتم وغيرهم كالدارقطني؛ فإنه وثق الفارسي في " كناه "، قال الحافظ في " التهذيب " عقبه: " وهذا مما يؤيد أنه غير الفارسي ".

“Kemudian aku melihat hadits yang disebutkan ini dalam Al-Mustadrak (4/129) dan Al-Hakim berkata; “sanadnya shahih” dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy padahal beliau sendiri (Adz-Dzahabiy) menyebutkan Abu Maimunah ini dalam Al-Mizan seraya menukil perkataan Ad-Daraquthniy yang telah kusebutkan di atas berupa penilaian dengan jahalah dan beliau menyepakatinya. Adapun Al-Hakim, barangkali beliau menduga bahwa Abu Maimunah dalam sanad ini adalah Al-Farisiy, bukan Abu Maimunah Al-Abbar. Atau beliau menduga bahwa keduanya satu orang. Namun yang rajih, keduanya berbeda. Dan yang berpandangan demikian adalah Syaikhan (Al-Bukhariy dan Muslim), Abu Hatim dan selain mereka seperti Ad-Daraquthniy. Karena beliau mentautsiq yang Al-Farisiy dalam Al-Kunna karyanya. Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentarinya dalam At-Tahdzib; “Pernyataan (Ad-Daraquthniy) ini termasuk (qarinah) yang menguatkan bahwa Abu Maimunah ini (yang dinilai majhul oleh Ad-Daraquthniy) bukanlah Al-Farisiy.” [Silsilah Adh-Dha’ifah, 3/492]

Dan tak hanya Al-Albaniy, yang seperti ini pun juga terjadi pada ulama terdahulu sebelum beliau. Contoh, adalah Ibnu Hajar pada suatu hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqiy berkenaan doa ketika tasyahhud dalam shalat, beliau berkata :

أخرجه البيهقي من طريق يحيى بن السباق عن رجل من بني الحارث عن ابن مسعود ويحيى مجهول وشيخه مبهم فهو سند ضعيف

“Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dari jalur Yahya bin As-Sabbaq dari seorang bani Al-Harits dari Ibnu Mas’ud. Yahya majhul, dan syaikhnya mubham. Maka sanad tersebut dha’if.” [Fathul-Bariy, 11/158]

وأخرجه الحاكم في صحيحه من حديث ابن مسعود فاغتر بتصحيحه قوم فوهموا فإنه من رواية يحيى بن السباق وهو مجهول عن رجل مبهم

“Dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam shahihnya dari hadits Ibnu Mas’ud. Beberapa orang terpedaya dengan tashhihnya (penilaian shahih Al-Hakim). Maka mereka telah keliru karena ia berasal dari riwayat Yahya bin As-Sabbaq, dia seorang yang majhul, (dan riwayat Yahya ini) dari rawi yang mubham. [Fathul-Bariy, 11/159]

Jadi ada dua ‘illat (cacat) yang membuat beliau menilai dha’if sanad tersebut, yaitu Yahya bin As-Sabbaq (majhul) dan syaikhnya yang mubham karena tidak diketahui namanya.

Namun di tempat lain beliau berkata :

وروى الحاكم والبيهقي من طريق يحيى بن السباق عن رجل من آل الحارث عن ابن مسعود ، { عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إذا تشهد أحدكم في الصلاة فليقل : اللهم صل على محمد وعلى آل محمد ، كما صليت وباركت وترحمت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد }رجاله ثقات إلا هذا الرجل الحارثي

“Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqiy dari jalur Yahya bin As-Sabbaq dari seorang keluarga Al-Harits, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Jika seseorang dari kalian pada keadaan tasyahhud dalam shalatnya, hendaklah ia mengucap; Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa Aali Muhammad, kamaa shallaiTA wa baarakTA wa tarahhamTA ‘alaa Ibraahiim wa Aali Ibraahiim, inna-KA Hamiidun Majiid.” Semua perawinya tsiqah kecuali seorang dari keluarga Al-Harits (Al-Haritsiy) ini. [At-Talkhish Al-Habir, 1/472]

Perhatikan perkataan beliau “semua rawinya tsiqah kecuali al-Haritsiy (yang mubham)” menunjukkan bahwa beliau menilai tsiqah semua rawi pada sanad tersebut termasuk Yahya kecuali syaikhnya yang mubham.

Contoh lain, satu sisi dikatakan majhul namun di sisi lainnya dikatakan shaduq. Yaitu pada rawi bernama Nauf bin Fadhalah, Ibnu Hajar berkata :

قوله : ( يقال له نوف ) بفتح النون وسكون الواو بعدها فاء ، وفي رواية سفيان " أن نوفا البكالي " وهو بكسر الموحدة مخففا وبعد الألف لام ، ووقع عند بعض رواة مسلم بفتح أوله والتشديد والأول هو الصواب ، واسم أبيه فضالة بفتح الفاء وتخفيف المعجمة ، وهو منسوب إلى بني بكال بن دعمي بن سعد بن عوف بطن من حمير ، ويقال إنه ابن امرأة كعب الأحبار وقيل ابن أخيه وهو تابعي صدوق

“Perkataannya “Dikatakan bahwa ia adalah Nauf” yaitu dengan “nun” di-fathah dan “waw” di-sukun, setelahnya ialah “fa”. Pada riwayat Sufyan dikatakan “bahwa Nauf adalah Al-Bikaliy” yaitu dengan “ba” di-kasrah secara takhfif (dibaca ringan tanpa tasydid) setelah “alif lam”. Terjadi pada sebagian perawi Muslim dengan fathah di awalnya dan tasydid. Namun yang pertama tadi (dengan kasrah secara takhfif) itulah yang benar. Sedangkan nama ayahnya adalah Fadhalah dengan “fa” di-fathah dan “dhad” di-takhfif. Ia dinisbatkan kepada bani Bikal bin Du’miy bin Sa’d bin ‘Auf, suatu suku dari (Kabilah) Himyar. Ada yang mengatakan bahwa ia putra istri Ka’b Al-Ahbar. Dan dikatakan juga bahwa ia putra saudaranya. Ia adalah seorang tabi’iy shaduq.” [Fathul-Bariy, 8/412-413]

Namun dalam At-Taqrib beliau menilainya “mastur” dimana dalam muqaddimahnya beliau menjelaskan bahwa mastur semakna dengan “majhul hal” :

نوف بفتح النون وسكون الواو ابن فضالة بفتح الفاء والمعجمة البكالي بكسر الموحدة وتخفيف الكاف ابن امرأة كعب شامي مستور وإنما كذب ابن عباس ما رواه عن أهل الكتاب من الثانية مات بعد التسعين خ م

“Nauf dengan “nun” di-fathah dan “waw” di-sukun bin Fadhalah dengan “fa” dan “dhad” di-fathah Al-Bikaliy dengan “ba” di-kasrah dan “kaf” di-takhfif, putra istri Ka’b. Seorang penduduk Syam. Mastur. Ibnu ‘Abbas hanya mendustakan apa yang ia (Nauf) riwayatkan dari ahli kitab. Termasuk dari thabaqah ke-2. Wafat setelah 90 H. Dipakai oleh Al-Bukhariy dan Muslim.” [Taqribut-Tahdzib no. 7213]

Lagi, satu sisi dinilai majhul, satu sisi lainnya dinilai “dha’if” :

رواه ابن ماجه من طريق سعيد بن المسيب ، عن ابن عمر مرفوعا ، لكن في إسناده حماد بن عبد الرحمن الكلبي وهو مجهول

“Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalur Sa’id bin Al-Musayyab, dari Ibnu ‘Umar secara marfu’ tetapi pada sanadnya terdapat Hammad bin ‘Abdirrahman Al-Kalbiy, seorang yang majhul.” [At-Talkhish Al-Habir 2/261]

حماد بن عبد الرحمن الكلبي أبو عبد الرحمن القنسريني ضعيف من الثامنة ق

Hammad bin ‘Abdirrahman Al-Kalbiy, Abu ‘Abdirrahman Al-Qanasriniy. Dha’if. Dari thabaqah ke-8. Dipakai oleh Ibnu Majah.” [Taqribut-Tahdzib no. 1507]

Maka apakah Ibnu Hajar kontradiksi? Bisa saja demikian namun tidak menutup kemungkinan pula bahwa beliau taraju’ meski tidak tashrih menyatakannya [maka apa lagi Al-Albaniy yang lebih dikuatkan dengan qarinah dalam muqaddimahnya dimana beliau telah memberi isyarat atas taraju’ beliau secara umum]. Sebagaimana contoh pertama pada rawi bernama Yahya bin As-Sabbaq, bisa saja Ibnu Hajar taraju’ dari menilainya majhul lalu berubah menilainya tsiqah, karena telah maklum bagi mereka yang akrab dengan kitab-kitab Ibnu Hajar bahwa “Fathul-Bariy” lebih awal ketimbang “At-Talkhish”. Kami tidak ada masalah dengan ini. Tetapi si pendengki [Jundu Muhammad] inilah yang  mempermasalahkannya.

Tidak ada cela ketika seorang ‘alim taraju’ dari pendapatnya yang lalu. Hal itu merupakan bukti ketsiqahan mereka dalam Dien dan ‘ilmunya. Imam Abu Hanifah menasihatkan kepada muridnya yakni Abu Yusuf untuk tidak selalu menulis apa yang didengar darinya, karena bisa jadi esoknya beliau meninggalkan pendapatnya tersebut. Imam Al-Hakim, ketika kitab beliau “Al-Madkhal” dikoreksi dan ditunjukkan beberapa kesalahan di dalamnya, beliau berterima kasih dan mendoakan orang tersebut seperti Al-Albaniy sebelumnya. Dan banyak contoh-contoh dari para ulama lainnya. Yang hina itu justru yang ketika dikoreksi tetapi diam tidak meralat kekeliruannya. Penyakit ini banyak menjangkiti “pendekar” dunia maya.

Karena itu banyak-banyaklah belajar wahai pendengki. Jangan baru tahu sedikit itu dan ini langsung latah atau itu akan menelanjangi kejahilan sendiri.

Kemudian tuduhan lainnya bahwa Al-Albaniy mencela As-Suyuthiy dan Al-Munawiy. Seperti pada tulisan sebelumnya, pendengki satu ini mengalami kekeliruan dalam menterjemahkan perkataan Al-Albaniy berikut :



Perhatikan, perkataan Al-Albaniy; “Qad waqa’a li As-Suyuthiy tsumma li Al-Munawiy khabthun” di atas diterjemahkan olehnya; “Sebuah pukulan keras bagi as-Suyuthi dan al-Munawi di dalam penyampaian lafazh hadits ini”

Ini adalah terjemahan yang sangat fatal kekeliruannya dimana lafazh “khabthun” diartikan “sebuah pukulan keras”. Kami benar-benar ngakak ketika melihat ini. Sudah maklum bagi pembelajar bahasa ‘Arab pemula sekalipun bahwa satu kata bisa memiliki berbagai makna, maka untuk didapati terjemahan yang tepat diperlukan kecermatan dalam melihat konteksnya [siyaqul-kalam]. Dan “khabthun” itu sendiri juga bisa berarti “kekeliruan” atau yang semakna dengan itu. Ini sudah sangat umum sehingga terlalu norak apabila kami harus sampai menunjukkan dari kamus seperti Lisanul-‘Arab. Kami akan langsung membawakan contoh kembali dari Ibnu Hajar yang konteks perkataan beliau serupa dengan perkataan Al-Albaniy di atas.

Ibnu Hajar berkata :

وقد وقع لابن منده خبط في ترجمة عبد الرحمن بن زمعة ؛ فإنه زعم أن عبد الرحمن وعبد الله وعبدا إخوة ثلاثة أولاد زمعة بن الأسود ، وليس كذلك بل عبد بغير إضافة وعبد الرحمن أخوان عامريان من قريش ، وعبد الله بن زمعة قرشي أسدي من قريش أيضا ، وقد أوضحت ذلك في " الإصابة في تمييز الصحابة "

Telah terjadi kekeliruan pada Ibnu Mandah (Qad waqa’a li Ibni Mandah Khabthun) dimana dalam biografi ‘Abdurrahman bin Zam’ah beliau mengklaim bahwa ‘Abdurrahman, ‘Abdullah dan ‘Abd(un) adalah tiga bersaudara yang merupakan anak-anaknya Zam’ah bin Al-Aswad. Padahal tidak seperti itu. Tetapi ‘Abdun tanpa idhaafah dan ‘Abdurrahman adalah dua ‘Amiriy bersaudara dari Quraisy. Sedangkan ‘Abdullah bin Zam’ah adalah seorang Quraisy Asadiy (bukan ‘Amiriy) dari Quraisy juga. Telah kujelaskan hal itu dalam Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah” [Fathul-Bariy, 12/32]

Silahkan para pembaca bayangkan apabila “khabthun” diterjemahkan “sebuah pukulan keras”. Mau jadi apa perkataan Ibnu Hajar di atas? Dan masih sangat banyak contoh-contoh lainnya dimana “khabthun” ini sering disematkan pula kepada rawi-rawi yang mengalami kekeliruan dalam meriwayatkan sanadnya. Kami sarankan kepada pendengki tersebut untuk kembali mempelajari bahasa ‘Arab daripada berbicara macam-macam tentang agama dan para ulama. Orang seperti ini mengingatkan kami kepada orang jahil lainnya yang bernama “Mahrus Ali” dimana ia menterjemahkan hadits “gharib” secara mutlak dengan arti “hadits nyeleneh”.

‘Alaa kulli haal, maka terjemahan yang tepat untuk perkataan Al-Albaniy adalah :

قد وقع للسيوطي ثم للمناوي خبط في لفظ هذا الحديث وسياقه بينته في المصدر الآنف الذكر برقم (571) . وكذلك أخطأ الغماري بإيراده في " كنزه "، ومعزوا لابن ماجه

“Telah terjadi kekeliruan pada As-Suyuthiy dan Al-Munawiy dalam penyampaian lafazh hadits ini dan siyaqnya telah aku jelaskan dalam sumber di atas tersebut (Silsilah Ash-Shahihah) no. 517. Begitu juga Al-Ghumariy telah keliru dalam kitab Kanz-nya dimana ia menisbatkannya (hadits ini) kepada riwayat Ibnu Majah.”

Karena memang seperti ini faktanya. As-Suyuthiy dan Al-Munawiy memang keliru dalam hal tersebut. Hadits yang tengah dibicarakan Al-Albaniy sebagaimana dalam Silsilah Ash-Shahihah [no. 517] adalah dengan matan:

اعبدوا الرحمن و أطعموا الطعام و أفشوا السلام تدخلوا الجنة بسلام

“Sembahlah Ar-Rahman. Berikanlah makan dan sebarkan salam. Niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.”

Hadits dengan matan ini dikeluarkan oleh At-Tirmidziy [no. 1855] dan yang lainnya dari beberapa jalur dari ‘Atha bin As-Sa’ib, dari ayahnya, dari Abdullah bin ‘Amru -radhiyallaahu ‘anhu- bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (seperti di atas).

Dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir [no. 2851] As-Suyuthiy menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dengan matan di atas adalah dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Ini jelas keliru, karena sebagaimana terlihat matan tersebut dalam riwayat At-Tirmidziy adalah dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amru. Memang ada juga hadits Abu Hurairah berkenaan hal ini yang diriwayatkan oleh At-Tirmidziy tetapi tidak dengan matan di atas, melainkan dengan matan seperti berikut :

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ حَمَّادٍ الْمَعْنِيُّ الْبَصْرِيُّ ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُمَحِيُّ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَاضْرِبُوا الْهَامَ تُورَثُوا الْجِنَانَ

“Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Hammad Al-Ma’niy Al-Bashriy, telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Abdirrahman Al-Jumahiy, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Sebarkanlah salam dan berikan makan. Penggallah kepala orang-orang kafir, niscaya kalian akan mewarisi Surga.” [Sunan At-Tirmidziy no. 1854]

Begitu pula Al-Munawiy, beliau keliru karena menyepakati As-Suyuthiy sebagaimana dalam Faidh Al-Qadir [1/552]. Maka jelas bahwa “khabthun” pada perkataan Al-Albaniy memang bermaksud “kekeliruan”.

Adapun kritik Al-Albaniy terhadap ‘Abdullah Al-Ghumariy yang keliru dalam menisbatkan matan hadits tersebut kepada Ibnu Majah dalam kitabnya Al-Kanz Ats-Tsamin, tidak dapat kami telusuri karena kami tidak memiliki kitabnya. Namun ada yang meng-upload kitab Al-Ghumariy tersebut disini. Entah asli atau tidak karena tanpa cover, muqaddimah penerbit dan penulis, dsb. Di dalamnya matan hadits di atas disebutkan pada no. 416 dengan menisbatkannya kepada At-Tirmidziy dari hadits Abu Hurairah. Maka jika kitab ini benar diupload sesuai kitab aslinya, baik Al-Albaniy maupun Al-Ghumariy telah keliru. Al-Albaniy keliru karena menyatakan bahwa Al-Ghumariy menisbatkannya kepada Ibnu Majah, sebab yang benar adalah At-Tirmidziy. Dan Al-Ghumariy juga keliru dengan menisbatkannya kepada hadits Abu Hurairah, karena yang benar matan tersebut dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amru.

Kami katakan seperti ini sebagai bukti bahwa pembelaan kami terhadap Al-Albaniy bukan atas dasar fanatik. Benar ya benar, keliru ya keliru. Siapa pun itu selain para Nabi ‘alaihimus-salaam. Bagi mereka yang memang mengenal kami, tentu tahu bahwa kami pun turut meluruskan apabila ada dusta atas firqah sesat seperti Syi’ah sekalipun walau bukan disini tempatnya.

Demikian yang kami sampaikan, silahkan para pembaca menilai sendiri kualitas dari pendengki Al-Albaniy ini. Kami tidak tertarik dengan orang-orang pasaran seperti ini. Kami hanya kasihan melihat orang-orang yang tertipu dengan tulisannya yang menjadi sumber pembodohan dan kedustaan. Bayangkan, sudah berapa lama tulisannya itu berdiri dan berapa banyak orang-orang lugu yang mengambil tulisannya dari dulu hingga kini untuk mencela Al-Albaniy. Tidakkah ia takut kepada Allah dari setiap madharat yang akan ditanggung olehnya?

Dan dari awal kami katakan ia hanya oknum karena kami pun memiliki rekan-rekan yang sangat akrab baik dari kalangan Salafiyyin maupun Nadhiyyin. Keilmuan mereka luar biasa dan mereka adalah orang-orang yang inshaf terhadap para ulama Ahlus Sunnah, yang seperti inilah yang menjadi refrensi kami. Bukan kalangan recehannya yang hanya bermodal baru baca satu dua lembar kitab langsung banyak gaya sehingga menunjukkan kejahilan sendiri. Sungguh menggelikan.

-          Jaser Leonheart -

read more